Entri Populer

Senin, 29 April 2013

I Love You Rangga (CERPEN)



'I LOVE YOU RANGGA'



By Deny Arfen Byngkara





"Erlin!!"
"Hadir pak..." sahutku.
"Hemm akhirnya aku masuk juga di ajang Kakang Mbakyu (sejenis Abang None) ini, siapa tahu aku bisa jadi artis, hehehe," khayalku.
"Heh Erlin, ngapain lu senyum-senyum kayak orang gila?"
"Ah elu Net, mau tau ajah!" jawabku sambil tetap mengisi lembar-lembar persyaratan.

Namun lagi-lagi Neti mengganggu.
"Er... Er cowok cakep!!"
"Ahh apa'an sih!! Biarin aja!!"
"Uda, liat dulu!" bujuk Neti.
Mau tak mau aku menoleh dan melihat ke arah cowok itu. Badannya tegap, tinggi, dan memang tampan seperti yang Neti katakan.
"Ah biasa aja," kataku cuek.

Beberapa hari kemudian aku kembali ke PemDa untuk tes tulis Kakang Mbakyu. Aku duduk di deret tengah, dan depanku duduk seorang cowok, yang sepertinya aku kenal. Benar juga, itu cowok yang waktu itu. Aku menggurutu, kenapa dia lagi, padahal dia gak punya salah, tapi gua kok males banget deket dia.

Beberapa hari kemudian pengumuman bagi peserta yang diterima telah di umumkan. Tercantum di sana nama 'Erlin Devi' itu namaku.
"Hore aku keterima!" teriakku girang.
Semua peserta yang diterima besorak girang layaknya orang yang lulus dari sekolahnya. Namun tidak bagi cowok yang njengkelin itu, dia diterima namun raut wajahnya dingin dan biasa saja. Dan dia bertanya padaku.
"Elu keterima ya?" tanyanya.
Ih aku ilfil banget ma kata-katanya yang sok kota, pake 'elu' segala.
"Siapa lo, siapa gue!" jawabku ketus dan meninggalkan ruangan.
Aku tak bisa membayangkan raut wajahnya, pasti marah banget, hehehe.

Pada saat aku nongkrong dengan teman-temanku, eh cowok itu duduk juga di sebelah temanku.
"Erlin, diajak kenalan tuh," kata seorang temanku sambil menunjuk cowok itu. Cowok itu semakin tebar pesona.
"Huh, males!!" jawabku ketus.
Namun aku mencuri-curi pandang ke arahnya, ternyata manis juga, hehe.
"Katanya gak mau, tapi kok curi-curi pandang!" sindir Neti yang semakin membuatku salah tingkah.

Keesokan harinya semua peserta dipanggil kembali ke PemDa untuk briefing. Di sana diadakan pembagian kelompok. Namu yang membuatku bingung di kelompokku tercantum nama Rangga, siapa itu aku gak kenal.
"Mbak tau yang namanya Rangga?" tanyaku kepada seseorang temanku.
"Aku Rangga," kata seorang cowok yang duduk di depanku, yang ternyata cowok yang sok itu.
"Owh.." jawabku sambil memasang muka cuek, tapi sebenernya aku malu.

Dalam tim kerja kelompok ini mengajarkan outbound dan kerja sama. Rangga sering banget membantuku, sehingga membuatku semakin dekat dengannya.
Pada saat hidangan makan siang, semua kelompok duduk di mejanya sendiri-sendiri. Pada saat mengambil makanan aku bersama si Rangga.
"Harusnya pria yang mengayomi wanita, ngambilin makanan atau apalah," celotehku.
"Kamu mau?" jawab Angga sambil mengambilkan makanan untukku. Wah so sweet pikirku. Pada saat makanpun kami bercanda terus, aku tantang dia untuk lomba siapa yang paling cepat selesai makan, Seru banget.


Akhirnya para peserta yang terpilih menjadi finalis telah diumumkan dan kami mengikuti karantina. Kami di
kumpulkan di sebuah aula, nampak Rangga berjalan membawa dua buah koper, padahal kami semua hanya membawa satu buah. Rangga duduk dan mengambil sebuah CD, lalu ia meminjam laptop salah seorang peserta wanita dan menyetel CD, lalu ia memperlihatkan tayangan CD tersebut pada peserta lain.
"Guys, ini yang bakal gue tampilin entar di panggung, bagus kan," katanya dengan sombong.
"Sok banget," batinku.
Sumpah aku 'ilfil 'banget, sombongnya nyebelin, tapi biarlah bukan urusanku.

Pembagian pasangan finalis pun dilakukan, pembagian diurutkan dari tanggal lahir terkecil.
"3 Mei, Erlin dengan Rangga," kata panitia.
Aku terkejut bukan main, masak sama dia lagi.
"Lho, lu kok tau gua 3 Mei?" tanyanya.
"Tu tanggal lahirku juga!" jawabku.
"Jodoh donk!" candanya.
Aku tersenyum kecut. Tapi apa boleh buat, memang begini aturannya.
"Boleh minta nomor hape and email gak?" tanyanya.
Mau tak mau aku beri semua yang dia minta, dia kan pasanganku, jadi kita harus komunikasi terus.

Karantinapun berlangsung. Kami semua menuju kolam renang hotel untuk berenang. Namun tidak bagiku, aku tak bisa berenang, jadi aku beralasan 'mens' untuk siapapun yang mengajakku masuk ke kolam. Namun bodohnya aku, pada saat aku jongkok, temanku mendorongku, aku pun tercebur dan sudah pasti aku kalang kabut seperti orang tenggelam, akhirnya Rangga menolongku dan membawaku ke tepi kolam.
"Mangkanya kalau gak bisa renang, jangan renang," katanya.
"Aku gak renang, aku didorong! Toh aku sudah alasan kalo aku mens," jawabku dengan nada tinggi.
Beberapa jam kemudian kami semua menuju kamar mandi untuk mandi dan ganti baju. Sialnya di kamar mandi wanita kerannya pada mati. Aku dan temanku memberanikan diri menuju di lantai satu, kamar mandi pria. Di sana temanku mandi duluan. Dan aku menunggunya di tempak duduk panjang. Aku tiduran di tempat duduk itu dan menghadap dinding, aku ketiduran beberapa menit. Hingga aku mendengar suara orang membuka tas di sampingku.
"Dah selesai Yu?" kataku sambil ku jalarkan tangan kiriku ke belakang menyentuhnya namun posisiku tetap menghadap dinding.
"Lho, kok laen, pahanya berotot banget," batinku. Akupun menoleh dan betapa terkejutnya aku bahwa yang ku sentuh bukan tubuh Ayu tapi si Rangga.
"Apa'an si lu pegang-pegang paha gue?" katanya.
"Nngg, siapa suruh berdiri di situ!" bentakku.
"Lho ini kan tempak buat cowok! Kamu ngapain tidur di sini?" jawabnya.
"Aku mandi dulu!" kataku sambil meninggalkan dia.
Betapa malunya aku waktu itu.

Beberapa hari kemudian hari 'H' telah tiba. Namun pada siang hari ku melihat Rangga kebingungan.
"Ngapain kamu?" tanyaku.
"Hapeku hilang," jawabnya lirih.
Akupun akhirnya ikut membantu mencarinya, dia kan pasangan untuk nanti malam, kalau dia ada apa-apa aku juga kena imbasnya. Sekian lama mencari tak ketemu juga. Dan akhirnya kami hentikan dan kami berdandan untuk acara nanti malam.

Selesai berdandan kami semua di belakang panggung. Aku bertemu dengan Reka teman SMA ku, rupanya dia akan menampilkan tarian pada saat pembukaan.
"Eka!" teriakku.
"Lin," jawabnya dengan nada centilnya sembari menuju diriku.
Kami bergosip ria, biasa anak cewek, sampai suatu saat dia bertanya.
"Lin, mana pasanganmu?"
"Itu," aku menunjuk Rangga.
"Rangga sini," panggilku.
"Wah mirip!" kata Eka. Memang kata orang kalau mirip itu mungkin berjodoh.
"Apa istriku?" tanya Rangga.
"Nih temenku Eka, kenalin," kataku, anehnya kata 'istriku' yang diucapkannya tidak membuatku marah.
Tiba-tiba aku melihat pacarku datang, akupun meninggalkan mereka dan menuju pacarku.

Acarapun dimulai, kami duduk di ruang tunggu, Rangga duduk di sebelahku, tiba-tiba ia bernyanyi, "Putuskan saja pacarmu lalu bilang i love you padaku."
Sepontan aku menoleh padanya.
"Kamu gak cocok ama dia," tambahnya.
Aku tersenyum saja, aku anggap seolah itu hanya gurauannya.

Pengumuman pemenang telah diumumkan, Rangga sebagai Kakang Tulungagung. Sedangkan aku cuma 5 besar saja. Dia tersenyum padaku dan aku balas dengan senyuman.

Tak terasa bulan demi bulan terlampaui, para finalis mengadakan reuni, sampai pulang larut malam. Aku kebingungan cari angkot, namun Rangga menawarkan diri untuk mengantarku. Sejak itu aku semakin dekat dengannya, keluargaku pun kenal dengannya.

Pada suatu hari aku dan pacarku bertengkar abis-abisan. Aku baru mengerti kalau dia selama ini dekat dengan mantannya. Aku memilih putus, dari pada terus dibohongin. Aku menangis sejadi-jadinya.

Suatu hari Rangga datang ke tempat kostku, dan mengajakku jalan.
"Ayo ikut gua, kita refreshing, jangan mikirin cowok brengsek itu." kata Rangga.
"Kamu kok tau masalahku?" tanyaku.
"Dia ngancem aku, aku dilarang ganggu kamu lagi," jawabnya.
Jadi selama ini cowokku ngancem Rangga, baru tahu aku. Semenjak itu Angga selalu menghiburku. Pada suatu hari pada saat kami jalan-jalan, kami berhenti di lampu merah. Dia berkata,"Er, aku dulu pernah bilang aku sayang kamu, and aku gak mau digantungin gini."
Aku terdiam, lampu hijau menyala dan mobil masih melaju. Dan akhirnya Rangga menghentikan mobil dan menatapku. Aku menjawab pertanyaannya, "Aku juga sayang kamu, and cinta kamu."
Semenjak hari itu hubungan kami menjadi pacaran dan semakin harmonis.

Hingga suatu hari dia harus berangkat ke jakarta untuk kuliah. Aku berniat untuk mengantarnya keberangkatannya. Namun pada saat aku sampai di tempat pemberangkatan bis, aku terkejut mendapati tak ada satupun bus malam jurusan jakarta di situ. Aku berlari sambil menangis mencari bis tersebut. Aku coba telpon Rangga.
"Kamu di mana?" tanyaku sambil terisak.
"Aku di bis," jawabnya.
"Aku dah di tempat bis-bis," kataku.
"Ya, ya aku turun," katanya.
Aku keluar menuju pintu keluar, nampak Rangga berjalan menuju diriku. Aku langsung berlari, memeluknya dan menangis sejadi-jadinya.
"Sudah jangan nangis toh kita masih bisa sms, telpon and ketemuan, aku janji gak bakal selingkuh, cewek di kampusku gak da yang bisa nandingi kamu," hiburnya.
"Iya... Hikz..." aku tetap menangis.
Kami mengobrol untuk terakhir kali sebelum dia berangkat ke jakarta. Akhirnya bis akan berangkat. Rangga berdiri memelukku dan menciumku, dan berkata, " I love you, take care."
Bis pun berangkat, dan air mataku mengalir membasahi pipiku. Aku yakin dia pasti kembali untukku. "I LOVE U RANGGA."







Nb.
Ni gua tulis berdasarkan curhat kakak gua, jadi ni kisah bener-bener nyata. N ni ngalami beberapa edit atas permintaan kakakku, nama-nama gua ganti menjaga rahasia ID mereka, Mereka tetep
pacaran and makin harmonis sampe sekarang. Moga langgeng ya Mbak!!!

And maap kalau ada yang melenceng-melenceng dikit ya mbak!!
Namanya juga manusia pasti ada salahnya.

Ttd.
Pengarang
(Deny Arfen Byngkara)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar